Sintesa 7- Sebuah Awal

Dret-dret. *Suara hp bergetar.

Ada sms masuk dari kakak perempuan, yang kini tinggal di Semarang.

“Sintesa.net.  Coba bukak.”

Saya balas “apa itu ?”

Kakak  : “nyantri gon mastah. Ibrahim Vatih” (gon=di tempat)

Dengan hp nokia 206, saya pun langsung membuka web itu. Oh, ternyata web sebuah pesantren. Eh, tapi ini pesantren yang beda dari pesantren pada umumnya. “Sebuah Pesantren Yang Fokus Pada Qur’an Dan Bisnis Online”,  itulah tulisan yang terpampang di halaman utama .

Pesantren Sintesa

Pesantren yang unik, pikir saya. Saya pun mulai ngubek-ngubek  isi dari websitenya. Saya baca-baca apa yang ada di situ. Saat baca halaman kegiatan dan tata tertib, saya mulai tertarik untuk mengenal lebih jauh. Ketertarikan tahap awal. Dan karena saat itu sedang dibuka pendaftaran santri angkatan 7, saya pun memiliki keinginan untuk bisa bergabung menjadi santri pesantren ini.

Tapi, ada beberapa hal yang masih mengganjal. Pesantren ini terletak di Magetan, Jawa Timur, sedangkan saya tinggal di Wonosobo, Jawa Tengah. Dan jika diterima saya akan berada di sana selama satu tahun. Sebuah hal yang akan menjadi pengalaman yang baru bagi saya. Tinggal di luar Wonosobo selama 1 tahun.

Jarak dari rumah ke Sintesa. via : google maps.

Hal lain yang memunculkan rasa mengganjal di hati adalah keharusan membawa laptop. Karena saat itu saya belum punya laptop.

Sayapun balas smsnya.

“Magetan. Laptop. 1 tahun full”

Kakak pun bales.

“Ya. Jal ngomong ortu dulu.”

“eh kira-kira lu siap kagak”

“Siapa tahu jalan lu. Keluarlah dari zona nyaman”

Zona nyaman. Betul juga saya piker. Kegiatan saat itu hanya bantu-bantu ortu di rumah. Pagi anter pasar. Sore jemput dari pasar. Siang bantu produksi tempe di rumah. Dan begitu terus setiap harinya.

Sebuah siklus hidup yang saya pikir nggak bagus jika terus seperti itu tanpa pengembangan kedepan. Tapi untuk berubah saya nggak tahu harus mulai dari mana.

Malamnya, saya lihat-lihat fanspage fbnya Sintesa dan mas Vatih. Dan saat itu ketertarikan tahap awal meningkat menjadi tahap akhir. Sebuah level ketertarikan yang berarti saya siap dan ingin menjadi salah satu santri Sintesa.

Keesokan paginya saya sms kakak.

ane tertarik. ngomong mbo’ene pige ?”

(“ane tertarik. ngomong ibunya gimana ?”).

(ket. –  saya manggil ibu dengan sebutan mbo’e.  – bahasa sms saya dan kakak emang campur-campur.)

Sms balasan dari kakak langsung saya forward ke Ibu.

“mbok niki enten peluang sinau tentang luru duit kan internet, kalih apalan quran. Template teng magetan. Setahun.”

( Bu, ini ana peluang belajar tentang cari uang dari internet, dan hafalan Quran. Tempatnya di Magetan. Setahun”)

Dan dapat balasan gini

ya bodoa deke. Nek deke minat ya monggo”. (ya terserah kamu. Kalau kamu minat ya silahkan.)

Alhamdulillah, sudah ada lampu hijau dari orang tua.

Proses Pendaftaran

Setelah itu, saya baca ulang form pendaftaran di web Sintesa. Di sana ada kolom yang harus diisi,  yaitu latar belakang keluarga dan harapan. Masing-masing harus berisi minimal 200 kata.

Selang dua hari, saya belum mulai nulis untuk ngisi form itu. Bingung mau nulis apa, dan bagaimana nulisnya. Karena, untuk seseorang yang belum mahir menulis, sekedar menulis latar belakang dan harapan pun menjadi sesuatu yang sulit.

Beli Hp

Pendaftaran di sintesa ini adalah lewat online. Karena saat itu hp yang saya pakai adalah nokia 206, dan saya merasa kesulitan untuk proses pendaftaran,  saya pun mempunyai pikiran untuk beli hp android. Supaya memudahkan saat mendaftar dan mencari info lebih lanjut tentang Sintesa.

Dan memang rejeki sudah ada yang ngatur. Saat ada niat untuk beli hp, saat itu ada teman yang mau jual hp. Jadi saya tidak usah mencari hp jauh-jauh, dan  langsung saya beli hp teman tadi.

 Nulis Form Latar Belakang Keluarga dan Harapan

Sebelum mendaftarkan diri lewat form yang sudah ada di web. Saya harus menulis latar belakang keluarga dan harapan. Seperti yang sudah saya tulis di atas, ini bukan merupakan sesuatu yang mudah, ini cukup sulit.

Karena form itu harus diisi. Saya pun mau ga mahu harus nulis. Namun, setelah beberapa saat nulis, lebih tepatnya beberapa detik, karena yang ditulis baru judulnya saja, yaitu “latar belakang keluarga”, saya bingung untuk melanjutkanya. Pikiran stuck, tidak tahu apa yang harus ditulis.

Mikir dulu, mau nulis apa ya? via : pexels.com

Saya pun coba googling. Mencari tahu tentang bagaimana tulisan tentang latar belakang keluarga itu. Setelah beberapa saat googling, bukannya tahu, saya malah tambah bingung.

Karena tidak nemu solusinya. Saya pun nekat nulis. Allahumma paksa. Allahumma bisa. Hasilnya, setelah beberapa hari, jadi juga tulisan itu.

Daftar

Setelah tulisannya jadi, selang beberapa hari saya memutuskan untuk mendaftar.

Ada sedikit kendala di sini. Waktu upload foto diri dan foto ktp, ternyata fotonya memiliki ukuran yang terlalu besar. Saya lalu mencari cara untuk mengompres fotonya. Setelah browsing, nemu juga solusinya. Dengan sebuah aplikasi sederharan di hp android, kendala itu beres.

Setelah mengisi semua kolom yang ada. Saya klik tombol daftar, tapi sepertinya gagal. Karena tidak ada pemberitahuanya, sayapun mengulangi lagi mengisi form nya. Setelah dua atau tiga kali, baru pendaftaranya berhasil.

Menunggu Panggilan

Sampai tahap mendaftar lewat form online selesai, saya sudah memasrahkan semuanya kepada-Nya. Jika memang rejeki maka ia tak akan kemana. Sesudah berusaha mendaftar dengan sebaik-baiknya, kini giliran menunggu ketetapan dari-Nya. Tentu saja dibarengi dengan memperbanyak doa.

Panggilan di sini bukan panggilan untuk berangkat, tapi panggilan untuk wawancara. Ya, ada tes wawancaranya juga.

Nunggu panggilan. via : pexels.com

Sore itu, tanggal 31 januari 2018, saat menjemput ibu di pasar, ada sebuah sms masuk. Ternyata dari panitia penerimaan santri baru Sintesa. Mereka memberitahukan bahwa malamnya saya akan ditelepon untuk wawancara. Dan diminta untuk mempersiapkan Al-Quran.

Wawancara

Malamnya, saya sudah mempersiapkan semuanya. Sehabis isya’, saya pergi ke bagian rumah yang tenang dan full sinyal. Karena saat itu pakai kartu sim tri, dan sinyal tri di dalam rumah sangat susah, jadi saya milih ke tempat yang full sinyalnya. Supaya lancar wawancaranya.

Malam itu adalah malam dimana gerhana bulan total terjadi. Karena menunggu panggilan dari sintesa, saya pun tidak ikut orang-orang shalat sunnah khusuf atau shalat sunnah gerhana bulan di masjid.

Jam 20:24,panggilan yang ditunggu itu pun tiba. Dalam wawancara itu, saya disuruh membaca surat Ali-Imron, sayangnya saya lupa ayat berapa yang dibaca.

Setelah membaca Al-Quran, ada beberapa pertanyaan yang diajukan. Antara lain tentang kesiapan untuk menjadi santri sintesa. Dan diakhir wawancara diberitahu bahwa besok malam pihak Sintesa akan menelepon orang tua. Dan diberi tahu juga bahwa pengumumanya tanggal 5 februari 2018 lewat fb Sintesa.

Dan benar, besok malamnya orang tua ditelepon. Apa dan bagaimana wawancaranya, saya tidak tahu, karena saya tidak bersama ibu saat wawancara itu berlangsung.

Pengumuman

Dan hari yang ditunggu itu pun tiba. Hari Senin, tanggal 5 Februari 2018. Sejak pagi saya sudah cek fb Sintesa. Beberapa kali cek, pengumuman itu belum ada.

Setelah dhuhur , sekitar jam 13.06, akhirnya pengumuman itu dipost. Dan dari 21 santri yang diterima, Alhamdulillah, nama saya tertulis diantara mereka yang diterima.

Alhamdulillah. Terima Kasih, Ya Allah.

Orang pertama yang saya beri tahu adalah kakak perempuan yang memberitahu info tentang sintesa itu, kebetulan dia sedang pulang kampung dan menginap di rumah beberapa minggu.

Sore harinya, setelah ibu pulang dari pasar, baru saya beri tahu bahwa saya lolos seleksi tahap pertama. Karena di sini ada dua tahap seleksi, dan seleksi tahap dua dilaksanakan di pondok Sintesa.

(bersambung)

Segitu dulu untuk postingan kali ini. Jika ada kesempatan akan saya sambung dengan postingan tentang persiapan keberangkatan dan perjalanan ke Sintesa dilain waktu.

 

 

Tinggalkan komentar