Ngaji Sama Santri : Talim Mutaalim

Ta’lim Muta’alim merupakan kitab yang ditulis oleh Syekh Az-Zarnuji, nama ini dinisbatkan kepada beliau karena beliau tinggal di daerah Zarnuj (Zurnuj). Penamaan ulama yang dinisbatkan kepada nama daerah ini sudah umum terjadi, sebut saja Imam Bukhari yang berasal dari daerah Bukhara, Imam Nawawi yang berasal dari daerah Nawa,Imam Turmudzi dari daerah Tirmidz.

Kitab Ta’lim Mutaalim ini merupakan sebuah kitab yang membahas tentang bagaimana akhlak, lebih khususnya akhlak seorang pencari ilmu.

Ya, dalam mencari ilmu kita harus mengedapankan akhlak. Akhlak terhadap guru, terhadap kitab/buku, dan akhlak kepada ilmu itu sendiri.

Saya pernah ikut ngaji kitab ini di pondok dulu. Tapi tidak sampai khatam, jangankan khatam, sampai setengah pun tidak. Namun,  saat di pondok dulu, para santrinya sudah mengamalkan apa yang diajarkan dari kitab Talim Mutaalim ini. Dan saya banyak belajar dari mereka.

Dan nilai-nilai dari apa yang saya pelajari dulu, saya kira akan sangat bagus jika diterapkan tidak hanya di pondok-pondok pesantren saja, tetapi juga di sekolah-sekolah formal.

apa yang saya tulis di bawah hanyalah setetes kecil dari luasnya samudera ilmu yang ada di kitab Talim Mutaalim. Dan saya menuliskannya berdasar apa yang saya lihat dari para santri saat dulu di pondok.Saya menyarankan kamu untuk ngaji kitab ini, dan usahakan sampai khatam, jangan seperti saya.

Oke, langsung saja.

Adab Terhadap Guru

Bagi orang yang bukan santri, poin-poin yang akan saya tulis ini akan dianggap berlebihan. Itu juga yang saya rasakan dulu.

Menunduk

Saat awal masuk pesantren, saya melihat para santri senior selalu menundukkan mukanya, bahkan badannya sedikit merunduk saat berada dihadapan kyai. Saat mereka berbicara dengan kyaipun mereka akan menundukkan kepala, dan tidak secara langsung menatap wajah kyai, karena sepengetahuan saya itu merupakan bagian dari suul adab.

Saat para santri itu mundur dari hadapan kyaipun, mereka tidak akan langsung membalik badan, meraka akan berjalan mundur, sampai sekiranya bebrapa meter baru mereka akan membalik badannya.

Menata Sandal

Hal lain yang saya lihat, mereka, para santri ,akan berlomba-lomba menata kembali sandal kyai sesaat setelah dipaki. Yang saya maksud menata adalah membalikkan arah sandal, sehingga nanti saat akan dipakai tidak perlu memutar badan, jadi tinggal langsung pakai, dan jalan.

Dan poin-poin di atas tidak hanya kami berikan kepada kyai, tetapi juga kepada keluarga kyai, baik bu nyai, maupun putra-putrinya.

Dan ini saya copaskan poin-poin yang masih berhubungan dengan apa yang saya tulis di atas

  1. Seorang murid tidak berjalan di depan gurunya
  2. Tidak duduk di tempat gurunya
  3. Tidak memulai bicara padanya kecuali dengan izin guru
  4. Tidak berbicara di hadapan guru
  5. Tidak bertanya sesuatu bila guru sedang capek atau bosan
  6. Harus menjaga waktu, jangan mengetuk pintunya, tapi menunggu sampai guru keluar
  7. Seorang murid harus kerelaan hati guru, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan guru marah, mematuhi perintahnya asal tidak bertentanangan dengan agama
  8. Termasuk menghormati guru adalah juga dengan menghormati putra-putra guru, dan sanak kerabat guru
  9. Jangan menyakiti hati seorang guru karena ilmu yang dipelajarinya akan tidak berkah

sumber  http://bersamadakwah.net/adab-murid-terhadap-guru/

Adab Terhadap Kitab

Dan inilah adab para santri terhadap kitab.

Saat Membawa Kitab

Salah satu hal yang sangat indah untuk dilihat adalah ketika para santri berangkat untuk ngaji. Mereka akan berangkat membawa kitab, dan yang istimewa adalah mereka akan membawanya dengan mendekapnya. Atau dengan membawanya di depan dada/perut.

Mereka tidak akan berani membawa kitab-kitab itu dengan menjinjingnya. Karena itu juga merupakan bagian dari suul adab kepada kitab atau lebih tepatnya kepada ilmu yang ada di dalamnya.

Wudhu

Sebelum mengambil kitab, para santri akan berusaha untuk dalam keadan suci, atau memiliki wudhu. Di dalam kitab Ta’lim Muta’allim disebutkan “Sebagian dari memuliakan ilmu adalah memuliakan kitab, Maka sepatutnya bagi pelajar ilmu tidak mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci”. Hal ini karena ilmu merupakan nur, sedangkan wudhu juga nur, maka dengan wudhu akan menambah nur ilmuya.

Tempat

Disetiap kesempatan, kesemua kitab-kitab itu tidak akan mereka taruh begitu saja dilantai. Mereka akan menaruhnya lebih tinggi dari lantai, entah menggunakan meja kecil, atau kalau perlu dipangku, jika saat itu sedang ngaji dan tidak kebagian dampar(meja kecil untuk ngaji).

Bahkan, saat meletakkan kitab-kitabpun mereka sangat hati-hati. Diurutkan dari atas yang memiliki kemuliaan tertinggi, yaitu Al-Quran, kitab Hadis, kitab tafsir Al-Quran, kitab tafsir hadits, kitab ushuluddin (tauhid), kitab ushul fiqh, kitab nahwu, kitab sharaf, ilmu balaghah (ma’ani, bayan dan badi’), kitab syair-syair Arab, kitab ilmu Arudh.

Para santri juga tidak akan melipat pinggiran kitab. Mereka akan lebih memilih menggunakan selembar kertas sebagai pembatas, selain sebagai pembatas, kertas itu juga biasanya digunakan untuk mencatat keterangan-keterangan yang   sering diutarakan oleh kyai/guru.

Bagi para santri meletakkan sesuatu di atas sebuah kitab merupakan hal yang terlarang. Bagaimana tidak, meletakkan kitab yang kemuliaannya di bawahnya saja merupakan sebuah hal yang dilarang. Apalagi meletakkan barang/benda yang lain, semisal pulpen, korek, kunci atau apapun itu.

Hafalan

Bagi para santri, menghafal merupakan kegiatan sehari-hari. Dari pertama masuk pesantren, ditahun pertama para santri sudah menghafal. Itu yang saya jalani dulu saat mondok. Bagi yang mondok bukan tahfidz maka akan menghafal nadhom-nadhom.

Saat di pondok, tahun pertama, kitab yang saya hafal adalah nadhom Aqidatul Awam dan nadhom Syifaul Jinan. Dan ditahun-tahun sesudahnya ada kitab nadhom Imrithi, Alfiyah, Jauharul Maknun, dan lain-lain.

Dan untuk bahasan hafalan ini, di kitab talim mutaalim ada bab khususnya. Yang isinya merupakn tips-tips supaya memudahkan hafalan, diantaranya

Mengurangi Makan

Ini karena saat kita merasa kenyang, apalagi kekenyangan akan membuat munculnya rasa malas dan akan sulit dalam menghafal.

Nah, untuk makan ini, disarankan hanya untuk menghilangkan rasa lapar saja.

Siwak

Banyak hadis yang membahas tentang keutamaan memakai siwak. Bahkan, saya pernah dengar hadis yang isinya mengatakan bahwa jika tidak memberatkan umatnya, mka Rasulullah akan menyuruh umatnya untuk bersiwak setiap akan sholat.

Jadi tentu saja banyak sekali keutaman yang bisa didapat dari bersiwak. Yang salah satunya adalah melancarkan hafalan. Seperti yang disebutkan dalm kitab Talim Mutaalim berikut ini

Yang artinya :”Bersiwak, minum madu, makan kandar(kemenyan putih) yang dicampur gula dan makan buah zabib merh 21 buah setiap hari dalam keadaan lapar, kesemuanya itu dapat mengakibatkan baiknya hafalan dan dapat mengobati berbagai macam penyakit”.

Menghindari Maksiat

Ada sebauh syair yang dinisbatkan kepada Imam Syafii, syair ini bercerita tentang susahnya imam syafii dalam menghafal, dan Gurunya imam syafii yaitu syekh waki’ memberikan nasihat untuk menghindari maksiat.

Begini syairnya

Itulah pelajaran-pelajaran yang bisa saya ambil dari kitab Talim Mutaalim, atau lebih tepatnya dari para pengamal kitab Talim Mutaalim yang tak lain adalah teman-teman santri saya di pondok dulu.

Semoga kita bisa mengambil manfaat dari tulisan ini.

Sekali lagi saya tekankan, tulisan ini bukanlah arti langusng dari kitab Talim Mutaalim. Tapi dari apa yang saya lihat dari teman-teman santri. Untuk itu, saya menyarankan kepada kamu, untuk mempelajarinya sampai khatam, untuk kemudian mengamalkannya.

Sekian. Terima kasih.

Tinggalkan komentar