Hal Yang Membatalkan Puasa | Lengkap

Berpuasa merupakan kegiatan di mana kita menahan nafsu-nafsu kita, mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Namun, banyak dari kita yang belum tahu perkara yang dihitung sebagai hal-hal yang membatalkan puasa.

Bahkan, mungkin ada dari kita yang belum bisa membedakan, antara hal yang membatalkan puasa danhal yang dibolehkan saat berpuasa.

Oleh karena itulah, sebelum berpuasa, penting bagi kita untuk mengetahui akan hal ini, yaitu yang membatalkan puasa. Karena bisa jadi, kadang puasa kita batal namun kita tidak tahu dan tidak menyadarinya. Atau mungkin kasusnya sebaliknya, yaitu kita menganggap puasa kita batal namun sebenarnya tidak.

Agar kita lebih mengetahui apa yang membatalkan puasa, berikut ini kami sajikan pembahasan mengenai perkara yang membatalkan puasa, dan ada juga hal-hal yang tidak membatalkan puasa.

Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa

Berikut kami tuliskan beberapa hal membatalkan puasa :

Murtad

Hal Yang Membatalkan Puasa : Murtad

Murtad atau kelaur dari islam adalah perkara pertama yang membatalkan puasa seseorang. Seperti yang disebutkan di kitab Safinnatun-Naja dalam fasal batalnya puasa.

يبطل الصوم : بردة

“Batal puasa : (yang pertama) murtad”

Bila seseorang karena satu atau beberapa hal meninggalkan agama islam, entah karena sebab apaupun itu, maka seketika itu ia murtad maka puasanya batal. Karena salah satu syarat berpuasa adalah beragama islam.

Makan dan Minum

Hal Yang Membatalkan Puasa : Makan dan Minum

Berdasar pada ijma’ atau kesepakatan ulama, makan dan minum merupakan sesuatu yang dapat membatalkan puasa, jika dilakukan dengan sengaja. Karena tujuan atau ujian dari berpuasa adalah menahan lapar dan juga haus.

Kenapa di atas ada kata “dengan sengaja”, karena ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa jika makan dan minum saat berpuasa dikerjakan denagn tidak dengan sengaja maka puasanya tidak batal.

Berikut hadisthadistnya :

Yang pertama diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu :

“Bahwa Nabi shallahu alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ
“man nasiya wa huwa shooimun fa akala au syariba falyutimma shoumahu fainnama ath’amahullahu wa saqoohu”

“Jika ada seseorang yang terlupa kalau dirinya tengah melakukan puasa, lalu kemudian dia makan atau minum, maka sempurnakanlah baginya puasanya, karena sungguh yang memberikannyanya makan dan minum adalah Allah”

Hadist di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhori dengan nomor hadist 1933, dan diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dengan nomor hadist 1155.

Yang kedua masih dari riwayat Abu Hurairah radhiallahu anhu :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَكَلْتُ وَشَرِبْتُ نَاسِيًا وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ اللَّهُ أَطْعَمَكَ وَسَقَاكَ

“’an Abi Hurairah, qaala jaa-a rajuulun ila-nnabiyyi shallahu alaihi wasallam, fa qoola yaa Rasulallah, inni akaltu wa syaribtu naasiyan wa ana shooimun, faqoola Allah ath’amaka wa saqooka”

“Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, beeliau berkata : Datang seorang laki-laki kehadapan Baginda Nabi shallahu alaihi wasallam, dan orang itu berkata Duhai Rasulallah sesungguhnya aku makan dan minum saat aku berpuasa karena lupa, maka Rasulullah menjawab ‘Allah yang telah memberimu makan dan minum’. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, dengan nomor hadist 2398.

Berkaitan juga dengan beberapa hadist di atas, masih ada hadist yang ketiga yang diriwayatkan Abu Hurairah yang menyatakan tentang orang yang lupa makan ketika puasa Ramadhan tidak adanya qadla dan kafarat baginya, berikut bunyi hadistnya :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَفْطَرَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ نَاسِيًا لَا قَضَاءَ عَلَيْهِ وَلَا كَفَّارَةَ

“Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda : Barang siapa yang makan (atau minum) di dalam bulan Ramadhan (siang harinya) karena lupa, maka tidak ada qodlo baginya dan tidak ada juga kafarat”. Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dengan nomor hadist 1990.

Berhubungan Badan

Hal Yang Membatalkan Puasa : Jima' Siang Hari

Berhubungan badan yang dilakukan baik oleh suami istri lebih-lebih bukan, akan membatalkan puasa, walaupun tidak sampai keluarnya mani. Batas dari berhubungan badan yang membatalkan puasa adalah sudah masuknya kasafah (kepala kemaluan laki-laki) ke dalam farji (vagina) perempuan.

Jika seseorang melakukan hubungan badan di siang hari di bulan Ramadhan, dan di malam harinya dia meniatkan untuk berpuasa, maka dia berdosa karena sudah merusak ibadah puasanya, dan sebab itu dia memiliki diharuskan atau wajib mengqoldo puasanya, atau membayar kafarat, yaitu dengan memerdekakan budak perempuan mukmin, sebagai hukumannya.

Bila dia tidak menemukan seorang budak perempuan untuk bisa dimerdekakan atau kalau ada budaknya namun dia tidak memiliki kemampuan untuk memerdekakannya  dalam hal pembayarannya, maka dia harus menggantinya dengan berpuasa selama dua bulan berturut-turut di dalam bulan selain bulan Ramadhan.

Namun, bila dia tidak juga mampu untuk melakukannya, maka dia wajib mengeluarkan fidyah sebanyak 60 orang, dari kalangan fakir maupun miskin. Dan dari tiap orang miskin maupun ffakir itu, mendapat makanan sebanyak satu mud yang cukup untuk membayar zakat fitrah.

Dan juka dia tidak mempu melakukan itu semua, maka hukuman itu tidaklah gugur, akan tetapi tetap menjadi kewajiban yang di tanggungnya. Dan jika suatu saat dia memiliki kemampuan untuk membayar, walaupun dengan cara mencicil, maka lakukan saja pencicilan itu dengan segera.

Berikut ada hadist dari sahabat Abu Hurairah :

جَاءَ رَجُلٌ اِلَى النبِى صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ فَقَالَ: هَلَكْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قَالَ: وَمَا اَهْلَكَكَ قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَاَتِى فِى رَمَضَانَ قَالَ: هَلْ تَجِدُ مَاتُعْتِقُ رَقَبَةً قَالَ:لَا،قَالَ: هَلْ تَسْتَطِيْعُ اَنْ تَصُوْمَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ: لَا،قَالَ:هَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتيْنَ مِسْكِيْنًا قَالَ:لَا،ثُم جَلَسَ فَاُءتِيَ النبِي صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ بِعَرَقٍ فِيْهِ تَمْرٌ قَالَ: تَصَدقْ بِهَذَاقَالَ: فَهَلْ اَعْلَى اَفْقَرَ مِنا؟ فَوَاللهِ مَا بَيْنَ لَا بَتَيْهَا اَهْلُ بَيْتٍ اَحْوَجُ اِلَيْهِ مِنا فَضَحِكَ النبِي صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ حَتى بَدَتْ اَنْيَابُهُ وَقَالَ:اذْهَبْ فَاطْعِمْهُ اَهْلَكَ

“Datang seorang pria ke hadapan Baginda Nabi shallahu alaihi wa sallam, kemudian pria itu berkata : ‘celakalah diriku duhai Rasulullah’, Nabi berkata : ‘apa yang membuatmu celaka?’, pria itu berkata lagi : ‘aku telah mencampuri isteriku di dalam bulan Ramadhan’, kemudian Nabi berkata : ‘bisakah kau memerdekakan seoarang budak?’, pria itu menjawab : ‘tidak,

kemudian Bagind Nabi bertanya lagi : ‘bisakah kamu berpuasa dua bulan secara berturut-turut’. Pria itu menjawab : ‘tidak’, Nabi bertanya lagi : ‘bisakah kamu memberi makan 60 orang miskin?’, pria itu menjawab : ‘tidak’. Kemudian pria itu

Kemudian Baginda Nabi diberi satu keranjangbesar yang di dalamnya berisi kurma, kemudian Baginda Nabi berkata : ‘bersedekahlah kamu dengan ini’, pria itu menjawab : ‘adakah yang lebih faqir dari kami? Demi Allah tidak ada yang lebih membutuhkannya dari pada keluarga kami’.

Kemudian Baginda Nabi shallallahu alaihi wa sallam tersenyum, sampai terlihat gigi taringnya, kemudian Beliau bersabda : ‘kembalilah (ke rumahmu) dan berilah makan keluargamu (dengan kurma ini).

Hadist di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhori dengan nomor hadist 1800, dan diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dengan nomor hadist 1870.

Muntah (dengan sengaja)

Hal Yang Membatalkan Puasa : Muntah Dengan Sengaja

Muntah yang disengajalah yang membatalkan puasa, kalau muntahnya karena tidak disengaja maka tidak membatalkan puasanya.

Contoh dari yang disengaja adalah jika kita memasukan sesuatu ke dalam mulut (kerongkongan) dan karenanya kita muntah, maka puasa kita batal.

Seperti yang disebutkan dari Hadist sebagai berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله تعالى عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلا قَضَاءَ عَلَيْهِ، وَمَنْ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ

“Dari Abu Hurairah radhiallahu ta’ala ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda : barangsiapa yang tidak mampu untuk menahan muntahnya, maka tidak ad qodlo puasa atasnya, dan barangsiapa yang sengaja muntah , maka atasnya qodlo (harus qodlo).”HR. Abu Daud. Juga diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan nomor hadist 653, dan juga oleh Imam Ibn Majah dengan nomor hadist 1666.

Yang perlu diperhatikan adalah, saat kita dalam kondisi batuk atau sakit tenggorokan, dan kita menegeluarkan dahak atau lendir, maka jika dahak itu sudah sampai luar mulut, maka jangan ditelan lagi, karena itu akan membatalkan puasa kita.

Keluarnya Air Mani (karena adanya sentuhan)

Hal Yang Membatalkan Puasa : Keluar Air Mani Karena Sentuhan

Dalam hal ini sentuhan yang dimaksud adalah baik disentuh diri sendiri maupun disentuh orang lain. Jadi jika mani yang keluar karena tanpa adanya sentuhan, misalnya jika ada pertanyaan “apakah mimpi basah membatalkan puasa?”, maka jawabannya adalah tidak, karena keluarnya saat mimpi basah adalah tanpa terjadi sentuhan.

 

 

 

Haid

Hal Yang Membatalkan Puasa : Haid

Haid adalah darah yang keluar dari kemaluan seorang wanita dengan usia minimal 9 tahun, normalnya sebulan sekali. Darah haid ini memiliki beberapa ciri-ciri, yaitu waktu paling cepat bagi darah haid untuk berhenti adalah 24 jam.

Dan umumnya para wanita mengeluarkan darah haid selama satu minggu, dan paling lamanya adalah lima belas hari. Sedangkan jarak antara dua haid minimal adalah lima belas hari.

Jika apa yang keluar dali kemaluan perempuan mirip atau punya ciri-ciri itu, maka jika darah haid keluar saat dia sedang berpuasa, puasanya menjadi batal. Karena, disalah satu syarat sahnya orang berpuasa adalah suci dari haid.

Nifas

Hal Yang Membatalkan Puasa : Nifas

Hampir sama seperti haid, nifas juga merupakan darah yang keluar dari kemaluan wanita, bedanya adalah, nifas ini keluar saat wanita baru melahirkan, dan batas maksimal darah yang keluar dari kemaluan wanita yang baru melahirkan disebut nifas adalah selama dua bulan.

Jika saat seoarang wanita berpuasa dan kemudian dia melahirkan, sehingga dia nifas, maka seketika puasanya batal. Karena suci dari nifas juga merupakan salah satu syarat sahnya puasa.

Gila

Hal Yang Membatalkan Puasa : Gila

Jika seseorang hilang akal atau gila saat dia sedang berpuasa, maka batallah puasanya seketika. Walaupun durasi dia gila hanya sebentar.

*******

Selain perkara yang membatalkan puasa, baik kita untuk mengetahui perkara-perkara yang boleh dan juga makruh saat menjalankan ibadah puasa.

Mubah dan/atau Makruh

Berikut ini kami tuliskan sedikit dari banyak perkara yang mubah / makruh saat berpuasa :

Berkumur – Berinstinsyaq

Para ulama bersepakat, bahwa berkumur dan beristinsyaq diperbolehkanbagi orang yang berpuasa, namun denganb syarat tidak dilakukan denga berlebihan, karena Baginda Nabi dan para sahabatnya juga demikian.

Bersiwak – Sikat Gigi

Ada bebrapa pendapat mengenai hukum bersiwak saat berpuasa. Pendapat pertama mengatakan bolehnya seseorang bersiwak selama dia berpuasa. Dan ada juga pendapat yang memakruhkan bersiwak setelah matahari tergelincir ke barat.

Ada pendapat dari Imam Nawawi, beliau menyebutkan jika orang bersiwak dengan siwak yang basah, dan cairan dari siwak itu tertelan, atau jika ada potongan dari siwak juga tertelan, maka .puasanya batal. Wallahu a’lam.

Untuk sikat gigi, menurut beberapa pendapat lebih baik menghindarinya, apalagi jika saat sikat gigi itu kita menggunakan pasta gigi. Karena dikhawatirkan akan ikut tertelan.

Mencicipi Makanan

Di poin ini juga ada bebrapa pendapat, ada yang hanya membolehkan dan ada juga yang sampai memakruhkan.

*******

Wallahu a’lam

*******

Itulah tadi pembahasan kita kali ini yang membahas tentang hal-hal yang membatalkan puasa. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih sudah berkunjung. Salam.

Tinggalkan komentar